A. PENGERTIAN WIRASWASTA
Jika dilihat secara etimologis, istilah wiraswasta berasal dari dua kata, yakni ‘wira’ dan ‘swasta’. Wira memiliki arti berani, utama, atau perkasa. Sedangkan swasta ternyata juga berasal dari dua kata, yakni ‘swa’ dan ‘sta’. Swa artinya sendiri, dan sta, berarti berdiri. Jadi, swasta bisa dimaknai berdiri di atas kekuatan sendiri. Dengan melihat arti etimologis di atas bisa diambil pengertian wiraswasta ialah keberanian, keutamaan, atau keperkasaan dalam berusaha dengan bersandar pada kekuatan sendiri.
Di sini yang perlu diperjelas adalah makna ‘kekuatan sendiri’. Makna dari ‘kekuatan sendiri’ bukanlah kegiatan usaha yang dilaksanakan secara sendirian, melainkan lebih mengacu kepada sikap mental yang tidak bergantung pada orang lain. Dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, ia lebih mengandalkan pada kekuatan sendiri daripada minta bantuan orang lain. Jadi, pengertian ‘menggunakan kekuatan sendiri’ bisa dikenakan pada usaha sendiri maupun bekerja sebagai karyawan.
PENGERTIAN WIRAUSAHAWAN
Wirausahawan menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian untuk tujuan mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang signifikan dan sumber daya yang diperlukan. Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) mendefinisikan wirausahawan sebagai "orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya. Sedangkan, Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan. Persamaannya dari pengertian - pengertian tersebut yaitu wirausahawan memiliki dan mampu berpikir kreatif-imajinatif, melihat peluang dan membuat bisnis baru. Seorang wirausahawan adalah seorang manajer, tetapi melakukan kegiatan tambahan yang tidak dilakukan semua manajer. Manajer bekerja dalam hierarki manajemen yang lebih formal, dengan kewenangan dan tanggung jawab yang didefinisikan secara jelas sedangkan pengusaha menggunakan jaringan daripada dari kewenangan formal.
Mitos-mitos tentang wirausahawan katanya wirausahawan adalah pelaku, bukan pemikir. Seringkali mereka adalah orang yang sangat metodis sehingga merencanakan tindakan mereka dengan hati-hati. Mereka dilahirkan, tidak diciptakan. Hari ini, pengakuan EAS Adiscipline membantu untuk menghilangkan mitos ini. Seperti semua disiplin ilmu, wirausahawan memiliki model, proses, dan kasus yang memungkinkan topik untuk dipelajari.
- Mereka adalah penemu, misalnya Ray Kroc, bukan ia yang menemukan waralaba makanan, tetapi ide-ide inovatifnya membuat McDonalds terbesar ke seluruh dunia.
- Mereka adalah orang aneh akademik dan sosial, keyakinan bahwa pengusaha adalah akademisi dan sosialisi yang tidak berhasil akibat dari beberapa pemilik usaha yang memulai perusahaan yang sukses setelah putus sekolah atau berhenti bekerja tapi tidak lagi dipandang demikian, saat ini dipandang sebagai seorang profesional.
- Orientasi wirausahawan adalah uang, uang adalah sumber daya tetapi tidak pernah menjadi tujuan akhir.
- Semua membutuhkan keberuntungan, benar bila keberuntungan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat akan selalu menghasilkan keuntungan. Tapi keberuntungan terjadi ketika persiapan bertemu kesempatan.
- Wirausahawan adalah pengambil risiko yang ekstrem (penjudi), sebaliknya bekerja dengan risiko yang diperhitungkan.Wirausahawan bekerja paling sukses keras lewat perencanaan dan persiapan untuk meminimalkan risiko yang terlibat dalam rangka untuk lebih mengontrol nasib visi mereka.
SEJARAH WIRASWASTA ATAU WIRAUSAHAWAN
Istilah wirausaha atau wiraswasta merupakan terjemahan dari kata entrepreneur. Entrepreneur sendiri berasal dari bahasa Perancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan arti between taker atau go-between. Contoh yang sering digunakan untuk menggambarkan pengertian ‘go-between’ atau ‘perantara’ ini adalah pada saat Marcopolo yang mencoba merintis jalur pelayaran dagang ke timur jauh. Untuk melakukan perjalanan dagang tersebut, Marcopolo tidak menjual barangnya sendiri. Dia hanya membawa barang seorang pengusaha melalui penandatanganan kontrak.
Dia setuju menandatangani kontrak untuk menjual barang dari pengusaha tersebut. Dalam kontrak ini dinyatakan bahwa si pengusaha memberi pinjaman dagang kepada Marcopolo. Dari penjualan barang tersebut, Marcopolo mendapat bagian 25%, termasuk asuransi. Sedangkan pengusaha memperoleh keuntungan lebih dari 75%. Segala macam resiko dari perdagangan tersebut ditanggung oleh pedagang, dalam hal ini Marcopolo. Jadi, pada masa itu wiraswasta digambarkan sebagai usaha, dalam hal contoh ini perdagangan, yang menggunakan modal orang lain, dan memperoleh bagian ( yang lebih kecil daripada pemilik modal ) dari usaha tersebut. Di sini, segala resiko usaha tersebut menjadi tanggungan wiraswastawan. Pemilik modal tidak menanggung resiko apa pun.
Sekitar abad lima belas, pengertian entrepreneur mengalami pergeseran. Saat itu istilah entrepreneur dipakai untuk melukiskan seseorang yang memimpin proyek produksi. Berbeda dengan zamannya Marcopolo, orang ini tidak menanggung resiko apapun. Tetapi ia bertanggungjawab menyediakan sumber-sumber yang diperlukan. Entrepreneur pada masa ini berbentuk klerikal, yakni orang yang bertanggungjawab dalam pekerjaan arsitek, seperti untuk pekerjaan bangunan istana.
Dalam kepustakaan bisnis beberapa sarjana Amerika, entrepreneur diartikan sebagai kegiatan individual atau kelompok yang membuka usaha baru dengan maksud memperoleh keuntungan, memelihara usaha itu dan membesarkannya, dalam bidang produksi maupun distribusi barang-barang ekonomi maupun jasa.
Jika kita ikuti perkembangan makna pengertian entrepreneur, memang mengalami perubahan-perubahan. Namun, sampai saat ini, pendapat Joseph Schumpeter pada tahun 1912 masih diikuti banyak kalangan, karena lebih luas. Menurut Schumpeter, seorang entrepreneur tidak selalu seorang pedagang ( businessman ) atau seorang manager; ia adalah orang yang unik yang berpembawaan pengambil resiko dan yang memperkenalkan produk-produk inovative dan tehnologi baru ke dalam perekonomian.
David Mc Clelland membuat kupasan yang menarik dari sisi psikologi tentang entrepreneur ini. Dalam bukunya The Achieving Society ( 1961 ), ia menguraikan bahwa ‘dorongan untuk mencapai keberhasilan’ merupakan faktor determinan, tidak saja bagi keberhasilan individu, tapi juga bangsa dalam memperoleh kemajuan hidup. Artinya, berhasil tidaknya sebuah bangsa dalam melaksanakan pembangunan bergantung pada jumlah penduduk yang mempunyai ‘dorongan untuk berhasil’ need for achieving ini. Dorongan ini oleh David Mc Clelland dinamakan ‘virus N Ach’.
Mengapa disebut virus ? Dalam penelitiannya terhadap bangsa-bangsa, Mc Clelland menemukan unsur-unsur yang dapat menggerakkan penduduk agar berprestasi dalam pembangunan bangsa, nilai-nilai yang mampu mendorong orang untuk selalu ingin berprestasi. Unsur-unsur ini bisa dipelajari dan ditularkan kemana-mana. Karena bisa ditularkan, maka disebutnya ‘virus’.
Bagaimana caranya agar virus N Ach ini dapat ditularkan ke masyarakat secara luas? Adalah tugas pemerintah untuk menggerakkan masyarakat dengan mengobarkan unsur-unsur tadi supaya mereka memiliki dorongan untuk berprestasi dalam pembangunan.
Pertanyaannya sekarang adalah kemana kita harus mencari unsur-unsur tersebut ?
Apakah semuanya harus kita ambil dari barat karena mereka telah membuktikan keberhasilannya di bidang ini? Tentu saja tidak semua, karena sesungguhnya bangsa kita telah memiliki nilai-nilai yang dapat mendorong munculnya N Ach ini. Nilai-nilai tersebut sedang ‘tersembunyi’ di setiap suku bangsa di tanah air ini. Adalah menjadi tugas pemerintah untuk menginventarisir nilai-nilai tadi untuk kemudian ‘menyuntikkan’ nya ke dalam masyarakat luas.
Dari berbagai pendapat ahli di atas, maka arti dari wiraswastawan ialah seorang yang memiliki dorongan untuk menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan, disertai modal dan resiko, serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi atas usahanya tersebut.
PERAN PENTING WIRAUSAHA
Besarnya peran wirausaha (pengusaha) tampak saat badai krisis ekonomi melanda Indonesia. Saat krisis kegiatan ekonomi rakyat kecil dalam bentuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan bagian terbesar dalam kegiatan ekonomi masyarakat yang mampu bertahan. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha (establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja.
Sektor UMKM Indonesia cukup menjanjikan karena 95% (43 juta) adalah sektor usaha mikro yang menunjukkan potensi besar. Kemampuan UMKM bertahan terbukti pada pada masa krisis 1997-1998. Selama 1997-2006, jumlah perusahaan berskala UMKM mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha Indonesia. Sumbangan UMKM terhadap PDB mencapai 54%-57%. Sebanyak 91% UMKM melakukan kegiatan ekspor melalui pihak ketiga eksportir dan hanya 8,8% yang berhubungan langsung dengan pembeli/importir di luar negeri.
Komunitas UMKM merupakan bagian dari sistem ekonomi Indonesia yang sangat strategis dalam mendorong dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi ditinjau dari berbagai aspek yang dimilikinya, yaitu:
- Kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang relatif rendah diperkirakan daya serap pada sektor UMKM mencapai 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4% dari total angkatan kerja yang bekerja.
- Aktivitas bisnis UMKM mengisi semua sektor ekonomi di antaranya pertanian, perdagangan, jasa, industri dan sebagainya.
- Kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni mencapai sedikitnya 56,72% dari total PDB.
- Proses produksi lebih banyak memanfaatkan bahan baku lokal; dan
- Agregasi atau jaringan UMKM memperkuat perekonomian lokal maupun nasional.
Dengan besarnya kapasitas yang dimiliki UMKM tersebut menuntut penanganan secara profesional dan strategis khususnya aspek kebijakan, strategi pembiayaaan dan pemberdayaan. Aspek tersebut merupakan bagian dari permasalahan struktural dalam upaya meningkatkan kinerja bisnis UMKM.
B. CIRI JIWA WIRAUSAHA
PENDAHULUAN:
Wirausaha adalah seseorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya
System ekonomi perusahaaan yang bebas. Karirkewirausahaan dapat mendukung
Kesejahteraan masyarakat, menghasilkan imbalan financial yang nyata. Wirausaha di
berbagai industry membantu perekonomian dengan menyediakan pekerjaan dan
memproduksi barang dan jasa bagi konsumen dalam negeri maupun di luar negeri.
Meskipun perusahaan raksasa menarik perhatian banyak public akan tetapi bisnis kecil
Dan kegiatan kewirauasahaannya setidaknya memberikan andil nyata bagi
Kehidupan sosial dan perekonomian dunia.
IMBALAN DALAM WIRAUSAHA
Tiap orang tertarik kepada kewirausahaan kerena berbagai imbalan yang dapat
Dikelompokkan dalam tiga kategori dasar : Laba, Kebebasan, dan kepuasan dalam
Menjalani hidup.
IMBALAN BERUPA LABA
Wirausaha mengharapkan hasil yang tidakhanya mengganti kerugian waktu dan
uang yang diinvestasikan tetapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko
dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Dengan
demikian imbalan berupa laba merupakan motofasi yang kuat bagi wirausaha
tertentu.
Laba adalah salah satu cara dalam mempertahankan nilai perusahaan. Beberapa
Wirausaha mungkin mengambil laba bagi dirinya sendiri atau membagikan laba
tersebut, tetapi kebanyakan wirausaha puas dengan laba yang pantas.
IMBALAN KEBEBASAN
Kebebasan untuk menjalankan perusahaannya merupakan imbalan lain bagi seorang
wirausaha. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991 menunjukkan bahwa
38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaannya di perusahaan lain karena
Mereka ingin menjadi bos atas perusahaansendiri. Beberapa wirasuaha
Menggunakan kebebasannya untuk menyusun kehidupan dan perilaku kerja
Pribadinya secara fleksibel. Kenyataannya banyak wirausaha tidak mengutamakan
Fleksibiltas di satu sisi saja. Akan tetapi wirausaha menghargai kebebasan dalam karir
kewirausahaan, seperti mengerjakan urusan mereka dengan cara sendiri, memungut
laba sendiri dan mengatur jadwal sendiri.
IMBALAN BERUPA KEPUASAN DALAM MENJALANI HIDUP
Wirausaha sering menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan
Bisnisnya sendiri. Pekerjaan yang mereka lakukan memberikan kenikmatan yang
Berasal dari kebebasan dan kenikmatan ini merefleksikan pemenuhan kerja pribadi
Pemilik pada barang dan jasa perusahaan. Banyak perusahaan yang dikelolah oleh
Wirausaha tumbuh menjadai besar akan tetapi ada juga yang relative tetap berskala
kecil.
TANTANGAN BERWIRAUSAHA
Meskipun imbalan dalam berwirasuaha menggiurkan, tapi ada juga biaya yang
Berhubungan dengan kepemilikan bisnis tersebut. Memulai dan mengoperasikan bisnis
Sendiri membutuhkan kerja keras, menyita banyak waktu dan membutuhkan kekuatan
emosi. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi
wirausaha, tidak ada jaminan kesuksesan. Wirausaha harus menerima berbagai resiko
berhubungan dengan kegagalan bisnis. Tantangan berupa kerja keras, tekanan
emosional, dan risiko meminta tingkat komitmen dan pengorbanan jika kita
mengharapkan mendapatkan imbalan.
KARAKTERISITK WIRAUSAHA
Sikap dan Perilaku sangat di pengaruhi oleh sifat dan watak yang dimilikioleh
seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif
merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar
wirausahawan tersebut dapat maju/sukses.
Gooffrey G. Meredith (1996; 5-6) mengemungkakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan
Seperti berikut :
Ciri-CiriWatak
1. Percaya Diri
2. Berorientasikan tugas dan hasil.
3. Pengambil Resiko.
4. Kepemimpinan.
6. Berorientasi ke masa depan.
Pendapat lain M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993; 6-7 )mengemungkakan
Delapan karakteristik yang meliputi :
1. Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
2. Lebih memilih risiko yang moderat.
3. Percayaakan kemampuan dirinya untuk berhasil
4. Selalu menghendaki umpan balik yang segera
5. Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh kedepan
6. Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi
Masa depan yang lebih baik .
7. Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan
Nilai tambah
8. Selalu menilai prestasi dengan uang.
Wirausaha selalu komitmen dalam melakukan tugasnyas ampai berhasil. Ia
Tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Ia berani mengambil resiko
Terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan artinya risiko yang di ambil tidak
Terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung
Oleh komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari
Peluang sampai ada hasil. Hasil-hasil ini harus nyata/jelas dan objektif dan merupakan
Umpan balik bagi kelancaran kegiatannya. Dengan semangat optimis yang tingggi
Karena ada hasil yang diperoleh, maka uang selalu dikelolah secara proaktif dan
Di pandang sebagai sumber daya.
Dalam mencapai keberhasilannya, seorang wirausaha memiliki ciri-ciri
tertentu pula. Dalam Enterpreneurship and Small Enterprise Development Report (1986)
yang dikutip oleh M. Scarborough dan Thomas W. immerer 1993;5) dikemungkinan
beberapa karakteristik kewirausahaan yang berhasil, diantaranya memiliki ciri-ciri :
1. Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas
2. Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam padangan dan bertindak terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan,
berencana, dan mengutamakan monitoring
3. Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan
bisnis
Berpikir Kreatif dalam Kewirausahaan
Menurut Zimmererr (1996) untuk mengembangkan ketramplan berfikir, seseorang
Menggunakan otak sebelah kanan. Sedangkan untuk belajar mengembangkan
Ketrampilan berpikir digunakan otak sebelah kiri, ciri-cirinya :
• Selalu bertanya :Apa ada cara yang lebih baik?
• Selalu menantang kebiasaan, tradisi dan kebiasaan rutin
• Mencoba untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda
• Menyadari kemungkinan banyak jawaban ketimbang satu jawaban yang benar
• Melihat kegagalan dan kesalahan sebagai jalan untuk mencapais ukses
• Mengkorelasikan ide-ide yang masih samar terhadap masalah untuk menghasilkan pemecahan inovasi
• Memiliki ketrampilan helicopter yaitu kemampuan untuk bangkit di atas kebiasaan rutin dan melihat permasalahan dari perspektif yang lebih luas
Kemudian memfokuskannnya pada kebutuhan untuk berubah.
C. PRASYARAT MENJADI WIRAUSAHA
Ciri-ciri yang harus dimiliki seorang wirausaha, kewiraushaaan sebenarnya lebih banyak menyangkut persoalan sikap mental. Aritnya, keberanian menanggung risiko untuk mengambil inisiatif dalam berusaha dengan orientasi masa depan dan mendasarkan pada kemampuan sendiri dengan tidak meninggalkan aspek pengetahuan dan keterampilan.
Sikap mental wirausaha bukan bawaan sejak lahir. Lingkungan juga banyak berpengaruh besar untuk menjadikan seseorang dapat tumbuh menjadi wirausaha yang tangguh. Lembaga-lembaga formal atau sekolah merupakan salah satu lingkungan yang dapat mengembleng seorang memiliki sikap mental wirausaha.
Prasyarat untuk menjadi seorang wirausaha yang baik, antara lain :
1. Untuk menjadi seorang wirausaha adalah dimilikinya motivasi yang tinggi untuk meraih prestasi atau dimilikinya motivasi berprestasi (achievement motivations). Dengan adanya motivasi tinggi untuk meraih prestasi, seorang akan memperoleh dorongan dari dalam dirinya secara terus-menerus agar prestasi itu sendiri terus mengalami peningkatan. Bangsa-bangsa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan melahirkan para wirausaha tnagguh yang menjadi pelopor bagi pesatnya kemajuan ekonomi negaranya.
2. Prasyarat kedua adalah dimilikinya sejumlah sifat yang berkisar pada sikap mental unggul. Sifat-sifat yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi wirausaha adalah sebagai berikut.
· Keberanian untuk menanggung resiko. Makin besar peluang sukses yang diharapkan, risikonya juga semakin besar.
· Kecenderungan untuk mencapai sukses yang lebih tinggi lagi
· Ketekunan dan daya tahan untuk melakukan dan menyelesaikan suatu tugas
· Kemauan untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang belum selesai atau yang pernah gagal dilakukan
· Persepsi terhadap waktu yang selalu dinamis, yaitu melihat waktu yang selalu terbatas dan berjalan cepat
· Pandangan atau orientasi waktu jauh kemasa depan
· Pemilihan mitra kerja dnegan mendasarkan pada pertimbangan keahlian dan kemampuan, bukan pertimbangan ikatan kekeluargaan
· Hasrat untuk memperoleh pengakuan akan hasil kerja karena kompetensi yang dimilikinya
3. Seorang wirausaha harus memiliki pengetahuan dan keterampilan. Seorang wirausahan harus memiliki intelektual yang cukup baik dan harus berusaha terus belajar menambah pengetahuan dan keterampilan dalam bidang-bidang yang ditanganinya. Pengetahuan dan keterampilan menangani usaha bisnis harus terus ditingkatkan, buik melalui pendidikan formal maupun pengalaman dalam praktik.
4. Mempunyai Modal yang Memadai
Pengertian modal yang memadai sangat relatife dan sangat bergantung pada cita-cita dan dasar wawasan wirausahawan tersebut. Bagi pengusaha kesil seperti Bapak Dudung, yang tinggal di pinggiran Jakarta, yang berpikiran sederhana dan hendak menapaki bidang usaha yang paling sederhana, uang sebesar satu juta rupiah hasil dari menabung bertahun-tahun sudah dianggap memadai. Uang itu sudah dapat dipergunakan untuk memulai berdagang sayur-mayur di kaki lima di pasar-pasar tradisional.
Pengertian modal yang memadai sangat relatife dan sangat bergantung pada cita-cita dan dasar wawasan wirausahawan tersebut. Bagi pengusaha kesil seperti Bapak Dudung, yang tinggal di pinggiran Jakarta, yang berpikiran sederhana dan hendak menapaki bidang usaha yang paling sederhana, uang sebesar satu juta rupiah hasil dari menabung bertahun-tahun sudah dianggap memadai. Uang itu sudah dapat dipergunakan untuk memulai berdagang sayur-mayur di kaki lima di pasar-pasar tradisional.
Di pihak lain, seorang sarjana ekonomi yang baru lulus seperti Drs. Purnomo, yang telah dibekali kemampuan menganalisis suatu proyek, mencoba untuk membuka bidang usaha kursus bimbingan belajar yang tampaknya bermasa depan cerah. Untuk membiayai pendirian kursus termasuk pembelian perlengkapan dan biaya gaji pengajar, Drs. Purnomo perlu menyediakan uang sebesar sepuluh juta rupiah yang didapatnya dari patungan bersama dua orang teman dekatnya.
Melihat dua kasus tersebut, apa yang diperbuat oleh Bapak Dudung dengan uang sebesar satu juta rupiah akan membuahkan pendapatan yang tentunya tidak begitu besar, namun cukup unutk membiayai kehidupan sehari-hari bersama dengan keluarganya. Lain halnya dengan Drs. Purnomo yang dengan berani menambahkan uang sepuluh juta rupiah. Jika kursus bimbingan belajarnya dikelola dengan baik, sudah tentu akan menghasilkan pendapatan yang besar. Jadi, jika uang yang ditanam jumlahnya besar, maka hasil yang diberikanpun akan besar pula.
Akan tetapi, pernyataan tersebut tidaklah harus berlaku umum karena ada juga pengusaha yang hanya mengeluarkan uang dalam jumlah kecil namun dapat mengelolanya sehingga memberikan hasil yang besar.
5. Mau Bekerja Keras Menekuni Usaha yang Ditangani
Ukuran kerja keras yang paling umum dipergunakan adalah jumlah jam kerja yang dijalani oleh seseorang setiap harinya. Pada umumnya, jam kerja pegawai kantor adalah delapan jam setiap hari dan enam hari setiap hari dan enam hari setiap minggunya.
Bagi kalangan wirausaha yang juga bertindak sebagai pemilik perusahaan, jam kerja yang dipakai setiap hari tidaklah terikat dengan batasan-batasan jam kerja yang umum. Sebagai orang yang bertanggung jawab langsung terhadap perkembangan usaha yang dimiliki, semakin banyak wirausaha tersebut mau menanamkan waktu kerjanya untuk mengembangkan perusahaanya, maka semakin besar pula perkembangan perusahaan yang dapat diharapkan.
Dalam kasus Bapak Dudung, jika Bapak Dudung memiliki semangat bekerja yang tinggi dan tidak kenal menyerah, maka beliau pasti akan mencurahkan waktu dan perhatiannya bagi keberhasilan usaha dagang sayurannya. Bapak Dudung akan berupaya menjalin kerjasama dengan petani sayuran di Bogor, agar mendapatkan pasokan sayur yang segar dan dan baik. Kerjasama juga akan dilakukan dengan para pengusaha angkutan sehingga sayuran yang baru dituai dapat dikirim dengan baik dan tepat waktu. Pada akhirnya, sebagai pedagang sayuran yang harus dapat memuaskan kebutuhan pelanggannya, Bapak Dudung harus sudah siap di lokasi berjualan paling lambat jam sepuluh malam dan melayani pembelinya sampai dengan keesokan harinya.
Dengan kemaunnya untuk bekerja lebih lama dari jam kerja para pedagang lainnya, dan mempergunakan kelebihan waktu tersebut untuk memperlancar dan meningkatkan usaha dagang sayurnya, Bapak Dudung dapat menikmati pasokan sayur yang lebih baik, pengiriman yang lebih cepat, dan akhirnya pendapatan yang lebih tinggi.
Dari contoh tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa jika seorang wirausaha mau bekerja keras menekuni bidang usaha yang digelutinya, niscaya hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Dari contoh tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa jika seorang wirausaha mau bekerja keras menekuni bidang usaha yang digelutinya, niscaya hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
6. Mampu Mengkalkulasi Harga Pokok, Harga Jual, dan Untung/Rugi
Suatu badan usaha, sekecil apapun ukurannya, pada akhirnya akan mengevaluasi seluruh aktifitas yang telah dilakukannya selama kurun waktu tertentu dengan cara melihat kinerja akhir keuangnnya. Pemeriksaan kinerja keuangan ini harus dilakukan, jikalau tidak maka apa yang telah terjadi pada perusahaan yang dipimpinnya.
Masalah mungkin akan timbul jika perusahaan tersebut terus menghasilkan keuntungan. Hal yang sebaliknya akan terjadi jika kondisi perusahaan sebenarnya berada pada posisi yang buruk, namun karena kinerja keuangnnya tidak pernah diteliti dengan benar dan baik. Seluruh kebobrokan perusahaan tersebut baru diketahui setelah terancam bangkrut.
Beberapa keahlian yang perlu dimiliki oleh seseorang wirausaha untuk dapat mengontrol dan menjalankan perusahannya dengan baik adalah menghitung harga pokok, harga jual, dan untung/rugi.
Wirausahawan dapat menggunakan beberapa rumus atau pendekatan yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengembalian uang yang telah ditanamnya, antara lain metode benefit-cost ratio atau internal rate of return. Akan tetapi, sebelum pendekatan tersebut digunakan, seorang wirausahawan sudah harus mengetahui seberapa banyak barang yang akan terjual dan biaya-biaya yang meungkin akan keluar selama periode perhitungan
7. Berani meninggalkan zona nyaman.
Setiap orang selalu merindukan zona nyaman. Mereka setengah mati berusaha meraihnya. Dan setibanya di zona tersebut mereka istirahat dan menikmati kenyamanan. Sayangnya, sebagian besar tertidur di zona itu, tak mau bergerak, sehingga tanpa sadar zona itu lama-lama tidak nyaman dan bahkan cenderung berbahaya. Dan ketika sadar, ia tak mampu lagi keluar dari zona nyaman dan — apa boleh buat — ia terjabak di sana selamanya.
Salah satu zona nyaman yang berbahaya bagi karyawan adalah gaji atau pendapatan yang tetap. Sedangkan bagi pengusaha adalah penguasaan pasar atau kestabilan perusahaan.
Nah, mereka yang berbakat jadi pengusaha adalah mereka yang tidak terjebak dalam zona nyaman. Bahkan mereka cenderung mencari tantangan untuk menciptakan zona nyaman baru. Mereka berani bertarung di pasar. Mereka berani menjual harta yang dimilikinya untuk memulai usaha. Susi Pujiastuti, sang ekportir hasil laut terbesar di negeri ini misalnya, memodali sendiri bisnisnya dengan menjual anting-anting dan gelangnya seharga Rp 750 ribu. Saya sendiri sempat “menggadaikan” rumah dan menjual mobil ketika usaha saya sempat goncang di tengah jalan.
Sementara Ollie dan Angel berani meninggalkan zona aman sebagai karyawan dengan gaji tetap demi membesarkan toko buku onlinenya (Kutukutubuku.com), butik onlinenya (Heartyboutique.com) serta solusi toko onlinenya (TukuSolution.com). Contoh lain, Iim Fahima dan Adhitia Sofyan berani meninggalkan gaji mewahnya sebagai karyawan biro iklan tradisional dan masa depannya yang cerah di sana, untuk membangun konsultan komunikasi pemasaran online Virus Communications.
Ketika sudah jadi pun, mereka yang berjiwa pengusaha tidak berhenti. Mereka biasanya resah dan segera berusaha meninggalkan zona aman “bisnis sudah jadi”. Mereka terus berpacu untuk membesarkan usahanya. Uang mereka tidak dibiarkan menganggur di bank, reksanada dan sejenisnya. Mereka tumpahkan harta mereka untuk menciptakan peluang baru.
8. Fokus
Memang ada saja pengusaha yang sukses meski ia tidak fokus di bisnis terntentu. Meski demikian, setahu saya, lebih banyak pengusaha yang sukses karena fokus ketimbang yang kurang fokus. Bill Gates tutup mata bertahun-tahun sepanjang hidupnya hanya fokus di bisnis peranti lunak, dan dia menjadi orang terkaya di dunia13 tahun berturut-turut. Susi Pudjiastuti yang setiap hari bergelut dengan ikan, kini jadi eksportir hasil laut terbesar. Sebaliknya, kebanyakan konglomerat yang masuk ke sana ke mari, bahkan membuat bank ketika boom bisnis finasial 1980-an, akhirnya terpuruk dan jadi pasien BPPN.
Fokus itu bertahun-tahun. Bukan cuma beberapa tahun. Apalagi beberapa bulan. Maka fokus di sini adalah fokus yang butuh kesadaran dan penuh passion.
9. Determinasi
Pengusaha itu jatuh sekali, bangun dua kali. Jatuh dua kali, bangun tiga kali. Jatuh sepuluh kali, bangun sebelas kali, dan seterusnya. Sama seperti laba-laba membangun sarangnya. Ia terus menerus merajut sarang. Meski kena angin dan jatuh, ia kembali lagi meneruskan sarangnya agar jadi utuh. Jatuh lagi pun, ia kembali lagi. Seperti tak kenal lelah. Tak kenal kecewa. Tak kenal putusasa. Tak kenal mengeluh.
Mereka punya determinasi.
Tak kenal menyerah sebelum saatnya.
Apa yang harus dimiliki seseorang bila ingin menjadi pengusaha sukses?
Pertama adalah kepercayaan diri dan kreatifitas. Ini adalah modal utama menjadi pengusaha. Karena seorang pengusaha harus punya kreatifitas untuk membuat sebuah produk yang menarik dan punya nilai jual lebih dibanding dengan produk sejenis. Untuk itu seorang pengusaha juga punya kepercayaan diri yang tinggi agar bisa mengembangkan usahanya.Biacara modal secara materi, sebenarnya bisa disiasati lewat program KUR (Kridit Usaha Rakyat). Jadi masalah modal saat ini bukan persoalan. Yang menjadi persoalan adalah kelayakan dari usaha tersebut. Terkadang seseorangmemiliki cita-cita menjadi pengusaha, tapi tidak bisa dituangkan dalam sebuah proposal. Kelengkapan hukum yang berhubungan dengan usaha tersebut juga tidak ada. Seperti, surat ijin usaha atau badan usaha. Ini jadi kendala saat mengajukan peminjaman modal. Bila legalitas lengkap, bukan tidak mungkin bank akan mengucurkan dana pinjaman.
Pertama adalah kepercayaan diri dan kreatifitas. Ini adalah modal utama menjadi pengusaha. Karena seorang pengusaha harus punya kreatifitas untuk membuat sebuah produk yang menarik dan punya nilai jual lebih dibanding dengan produk sejenis. Untuk itu seorang pengusaha juga punya kepercayaan diri yang tinggi agar bisa mengembangkan usahanya.Biacara modal secara materi, sebenarnya bisa disiasati lewat program KUR (Kridit Usaha Rakyat). Jadi masalah modal saat ini bukan persoalan. Yang menjadi persoalan adalah kelayakan dari usaha tersebut. Terkadang seseorangmemiliki cita-cita menjadi pengusaha, tapi tidak bisa dituangkan dalam sebuah proposal. Kelengkapan hukum yang berhubungan dengan usaha tersebut juga tidak ada. Seperti, surat ijin usaha atau badan usaha. Ini jadi kendala saat mengajukan peminjaman modal. Bila legalitas lengkap, bukan tidak mungkin bank akan mengucurkan dana pinjaman.
Bagaimana mensiasati saat usaha yang kita jalani tidak berjalan sesuai harapan?
Namanya berbisnis atau usaha grafiknya naik-turun. Kadang kita bisa mendapat keuntungan dari usaha yang kita jalankan. Sering juga usaha tidak jalan sesuai keinginan. Nah, mensiasatinya yaitu lewat difrensiasi usaha. Jangan sampai kita hanya berpatokan pada satu usaha saja. Kita harus punya peluang-peluang usaha lain. Jadi, bila satu usaha yang kita kembangkan ternyata tak berjalan, kita bisa menggerakan usaha lainya. Misalnya, bila kita menjalani bisnis kontraktor di dearah. Bila usaha kontraktor tidak berjalan, kalo bisa kita pindah ke bisnis perkebunan. Karena tidak berbeda jauh. Perkebunan pun butuh alat-alat berat seperti yang dibutuhkan kontraktor. Kita tahu sekarang bisnis sumber daya alam sedang naik daun, tak ada salahnya kita mencoba. Yang harus dijaga adalah manajeman dalam usaha itu sendiri.Agar lebih kuat.
D. SEKTOR KEGIATAN WIRAUSAHA
Kegiatan wirausaha dapat merabah hampir di seluruh bidang kegiatan ekonomi, baik yang diselenggarakan oleh negara maupun swasta. Kegiatan ekonomi pada sektor formal yang memiliki bentuk badan hukum ataupun kegiatan sektor ekonomi informal yang biasanya tidak memiliki badan hukum dapat menjadi lahan untuk dimasuki para wirausahawan. Tiap sektor formal maupun informal memiliki kelebihan dan kekurangan diantaranya:
1. Sektor Ekonomi Formal
Sektor ekonomi formal biasanya ditangani dalam bentuk organisasi atau lembaga formal pula.Bentuk badan hukum formal tersebut adalah Firma, CV, Perseroan Terbatas, BUMN, Koperasi.
Sektor Formal dapat meliputi berbagai bidang kegiatan ekonomi, seperti perdagangan, pertanian, industri, jasa dan pertambangan. Organisasi ini tentu dikelola dengan orang- orang profesional.
a. Keunggulan dari sektor ekonomi formal antara lain:
- Sektor ekonomi ini lebih mudah diawasi dan dibina oleh pemerintah
- Sektor ekonomi ini lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari investor
- Sektor ekonomi ini dituntut untuk menciptakan orang yang profesional
b. Kelemahan dari sektor ekonomi formal adalah keterbatasan dalam menampung jumlah wirausaha karena setiap wirausaha dituntut profesionalismenya
c. Ciri-ciri sektor formal :
a. adanya izin mendirikan usaha dari pemerntah
b. modal yang dibutuhkan relatif besar
c. kewajiban membayar pajak
d. perolehan laba relatif besar
e. kegiatan usaha lebih banyak terpusat dikota-kota
a. adanya izin mendirikan usaha dari pemerntah
b. modal yang dibutuhkan relatif besar
c. kewajiban membayar pajak
d. perolehan laba relatif besar
e. kegiatan usaha lebih banyak terpusat dikota-kota
d. Contoh usaha sektor ekonomi formal antara lain :
1. Perbankan
2. Transportasi
3. Retail
4. Distrikbusi
5. Komunikasi
6. Properti
1. Perbankan
2. Transportasi
3. Retail
4. Distrikbusi
5. Komunikasi
6. Properti
2. Sektor Ekonomi informal
Sektor ekonomi informal dalam masyarakat sangat berkembang. Sektor ini dibangun berdasarkan struktur masyarakat atau organisasi dan bersifat mandiri. Sektor informal yang umumnya terjadi pada masyarakat akar rumput (grass root) tercipta karena mereka adalah bagian yang termarjinalkan dalam struktur masyarakatknya sehingga mereka harus mengembangkan potensi diri mereka sendiri yang sebagian besar potensi itu terhisap oleh masyarakat kelas atas.
Masyarakat kelas atas yang memanfaatkan mereka mengambil keuntungan berlebih dari keterikatan antara mereka dengan orang-orang miskin tersebut. Inilah dalam Marx yang dinamakan teori surplus value dimana pihak ‘penguasa’ mengambil nilai lebih dari hasil yang dikerjakan oleh para buruhnya tanpa memberikan kompensasi atas nilai tersebut atau dikompensasi normal.
Adanya migrasi, akses atas modal (capital), dan urbanisasi menciptakan ruang gerak bagi mereka sehingga dengan segera mampu untuk membangun perekonomian mereka. Munculnya pedagang-pedagang kaki lima dikota-kota besar adalah salah satu contoh sektor ekonomi informal yang paling kelihatan.
Dikatakan sebagai sektor ekonomi informal karena umumnya pengusaha tersebut tidak memiliki badan hukum, tidak ada kewajiban untuk membayar pajak atas usahanya, dan lainnya.
Masyarakat kelas atas yang memanfaatkan mereka mengambil keuntungan berlebih dari keterikatan antara mereka dengan orang-orang miskin tersebut. Inilah dalam Marx yang dinamakan teori surplus value dimana pihak ‘penguasa’ mengambil nilai lebih dari hasil yang dikerjakan oleh para buruhnya tanpa memberikan kompensasi atas nilai tersebut atau dikompensasi normal.
Adanya migrasi, akses atas modal (capital), dan urbanisasi menciptakan ruang gerak bagi mereka sehingga dengan segera mampu untuk membangun perekonomian mereka. Munculnya pedagang-pedagang kaki lima dikota-kota besar adalah salah satu contoh sektor ekonomi informal yang paling kelihatan.
Dikatakan sebagai sektor ekonomi informal karena umumnya pengusaha tersebut tidak memiliki badan hukum, tidak ada kewajiban untuk membayar pajak atas usahanya, dan lainnya.
Pengusaha sektor informal diakui eksistensinya dalam masyarakat, namun mereka sangat minim akan proteksi. Seperti pungutan liar mengatasnamakan keamanan yang terjadi pada para pedagang-pedagang dipasar-pasar tradisional.
Untuk memperkuat basisnya, biasanya mereka membentuk komunitas mereka. Perasaan senasib sebagai pedagang atau pengusaha informal membuat mereka merasa perlu untuk membuat suatu wadah yang mampu melindungi mereka sebagai satu kesatuan, dimana pemerintah tidak mampu untuk melakukan itu. Kekuatan-kekuatan yang semakin solid ini menciptakan ketakutan sendiri bagi para pelau ekonomi terstruktur.
Para pelaku ekonomi terstruktur ini takut akan hilangnya pendapatan yang seharusnya masuk ke kas mereka. Revenue atas erosi turnover pasar yang terjadi dalam siklus ekonomi suatu wilayah bahkan Negara, menurut mereka harus dihindari. Karena hal itu akan menciptakan distorsi harga dipasaran. Isu semacam ini digunakan oleh para pelaku ekonomi terstruktur karena ketakutan mereka atas pangsa pasar yang dapat beralih ke sektor informal akibat harga barang-barang yang dijual pada sektor formal adalah sama dengan yang dijual pada sektor informal dengan harga murah karena tidak tersentuh pajak.
Namun jika menggunakan logika ekonomi, mekanisme pasar yang sebenarnya terjadi adalah pada sektor riil nya. Jika sektor riil telah mapan dalam perjalanannya, maka tingkat kesejahteraan masyarakat miskin pun dapat menaik dan sektor makro akan tersokong dengan sempurna. Tidak ada gap antara pertumbuhan mikro dan makro. Sampai hal ini belum terjadi, menggunakan indikator makro unutk menentukan tingkat kesejateraan masyarakat sepertinya harus dipertanyakan kembali.
Dalam masyarakat tertentu, berusaha pada sektor ekonomi informal seperti hal yang sudah mendarah daging. Menurut Hernando De Soto dalam bukunya The Other Path sektor informal hadir karena ruang gerak yang diberikan oleh masyarakat formal. Karena sektor ekonomi informal dianggap sebagai cirri dari budaya dan tata kebiasaan kota sebagai celah untuk menyatu dengan system kota.
Namun jika menggunakan logika ekonomi, mekanisme pasar yang sebenarnya terjadi adalah pada sektor riil nya. Jika sektor riil telah mapan dalam perjalanannya, maka tingkat kesejahteraan masyarakat miskin pun dapat menaik dan sektor makro akan tersokong dengan sempurna. Tidak ada gap antara pertumbuhan mikro dan makro. Sampai hal ini belum terjadi, menggunakan indikator makro unutk menentukan tingkat kesejateraan masyarakat sepertinya harus dipertanyakan kembali.
Dalam masyarakat tertentu, berusaha pada sektor ekonomi informal seperti hal yang sudah mendarah daging. Menurut Hernando De Soto dalam bukunya The Other Path sektor informal hadir karena ruang gerak yang diberikan oleh masyarakat formal. Karena sektor ekonomi informal dianggap sebagai cirri dari budaya dan tata kebiasaan kota sebagai celah untuk menyatu dengan system kota.
Tetapi pada sisi lain, sektor informal ini tidak tertata dengan baik. Kesulitan dalam pendataan jumlah pengusaha informal membuat pemerintah sering menerapkan kebijakan yang tidak menguntungkan bagi pengusaha informal. ‘privatisasi’ lahan public menjadi lahan usaha menjadi satu contoh yang paling akrab kita temui. Pemerintah hanya mengakui eksistensi mereka, tetapi tidak memberikan perlindungan yang seharusnya dilakukan. Munculnya pasar-pasar informal ini kemudian dituding oleh pemerintah sebagai sektor yang paling tidak dapat diatur.
Pembatasan-pembatasan ekspansi usaha oleh para pengusaha sektor informal dapat membuat keadaan ekonomi mereka tidak berkembang dengan baik. Sektor informal juga dianggap masalah yang bersifat structural, hadir karena adanya kemiskinan. Padahal pemeintah sendirilah yang tidak menciptakan fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk memenuhi kebutuhan akan pasar informal ini. Dan upaya untuk kearah perbaikan, penataan kembali sektor ekonomi informal menjadi lebih baik sangat minim dilakukan.
A. Keunggulan Sektor Ekonomi Informal:
- Para Wirausawan kecil bisa menanamkan modal
- Tidak membutuhkan banyak modal
- Kesempatan kerja luas
B. Kelemahan sektor Ekonomi Informal:
- Kurang memiliki kesempatan menjalin hubungan dengan lembaga- lembaga penyedia modal Karen ketidakpastian jaminan hukum yang bisa dituntut lembaga penyedia modal.
- Kecil kemungkinan untuk menjadi berkembang mejadi usaha besar karena keterbatasan-keterbatasan modal, keterampilan, atau manejemen.
- Kecil kemungkinan untuk menjadi wirausawan professional.
C. Ciri-ciri sektor informal :
a. tidak memiliki izin usaha
b. modal yang diperlukan relatif kecil
c. peralatan yang digumakan sederhana
d. tidak terkena pungutn pajak
e. pengadministrasian sangat sederhana
a. tidak memiliki izin usaha
b. modal yang diperlukan relatif kecil
c. peralatan yang digumakan sederhana
d. tidak terkena pungutn pajak
e. pengadministrasian sangat sederhana
D. Contoh usaha sektor ekonomi informal : warung makan, pedagang kaki lima, salon kecantikan, biro jasa pengetikan.